Kamis, 29 Juli 2021

PAK GURU KALAU SUDAH TATAP MUKA, ULANGANNYA TETAP GOOGLE FORM SAJA YA !



A.    GEGER DI WUHAN MENCEKAM DI SEKOLAHAN

Berita korona sudah kudengar sejak akhir 2019,  ada beberapa kiriman video pendek yang isinya menggambarkan betapa menyeramkannya virus covid-19 ini bila sudah menghinggapi seseorang. Dan lebih menyeramkan lagi, konon bisa menyebar dari media benda padat, cair, dan gas. Apa saja yang dipegang atau disentuh orang yang terpapar korona, maka barang tersebut bila disentuh orang lain, maka orang yang menyentunya akan langsung terpapar pula.

Terus terang saja, aku pun merasa was was,cemas, dan khawatir dengan adanya berita korona yang baru tersebar terbatas dari satu grup WA ke grup WA lainnya, isi video pendek korona tersebut cukup kuat pengruhnya di otak dan pikiran siapa saja orang yang menontonnya menyampaikan pesan betapa ganasnya virus korona, ia bisa membunuh siapa saja dengan cepat dan tanpa memilih siapa yang akan dimangsanya.

Semester 2 tahun pembelajaran 2019-2020 ada field trip ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur, ketika itu aku mengampu pelajaran IPA di kelas IV SD Islam Al Azhar 10 Serang, dan ditugaskan menjadi ketua pelaksana, dengan adanya isu korona kami khawatir kalau kami tidak bisa berkujung, namun karena waktu itu berita korona masih belum begitu besar dan menyebar, maka jadwal kunjungan kami ke TMII pun di awal januari 2020 bisa dilaksanakan.

Ada rasa heran dalam hatiku, mengapa ada beberapa anak muridku  pakai masker, Cindy, Falisha, Bagas, dan Barra memakainya, bahkan aku pun diberi oleh mereka dan diminta untuk memakainya. Pak pakai ya, untuk jaga kesehatan !, dalam hatiku kesehatan apa dengan masker?,  yang ada juga menjadi susah bernafas dan malah tidak sehat. Masker pun aku pakai untuk menghargai mereka, namun kutarik kebawah dagu menutupi jenggotku. Ada murid yang melihatku dan komentar, pak masker untuk nutup hidung dan mulut bukan jenggot. Aku timpali, iya tadi sudah dan ini jenggot Pak guru juga mau maskeran. Hehehe. 



            Selama di TMII, aku melihat beberapa kelompok murid dari berbagai sekolah yang ketemu di lokasi PP-IPTEK sebagian dari mereka ada yang pakai masker juga, namun waktu itu belum begitu banyak. Kami menghabiskan waktu belajar hari ini di TMII, selain PP-IPTEK, kami mengunjungi wahana teater Keong Mas, Musium Al Quran di Masjid At-Thiin, dan musium air tawar, serta area sewa sepeda. Kami pulang setelah ashar, dan tiba di kota Serang jelang adzan Isya. Di perjalan pulang aku duduk di bangku belakang bus Armada Jaya Perksa yang kami sewa, kebetulan rombongn anak laki-laki yang duduk bersamaku, mereka asyik bercanda dan bernyanyi sepanjang jalan perjalanan pulang.

            Februari 2020 yang masuk sekolah tatap muka mulai berkurang, beberapa orang tua mulai khawatir jika anaknya masuk sekolah tatap muka dan ngejapri aku untuk ijin anaknya tidak masuk ke sekolah dan minta supaya diinfokan tugasnya saja. Mau belajar mandiri dari rumah, ada Fio dan Keyko, putri Kapolres kabupaten Serang dan Korlantas Polda Banten, mereka berdua sebulan Februari tidak masuk sekolah dan hanya sesekali datang untuk mengumpulkan buku paket menyerahkan tugas atau PR padaku dan guru pelajaran lainnya. 

    Barulah pada Maret 2020  gelombang berita tentang wabah korona di China tepatnya di kota Wuhan meledak dan membanjiri semua media baik Televisi, sosial media maupun media cetak lainnya. Kabar korona ditayangkan 24 jam  di semua media bahkan berita lainnya nyaris tak diberitakan, dalam berita korona tersebut terselip pesan betapa mengerikannya virus covid-19 ini karena hanya dalam waktu singkat, dalam sepekan saja sudah menewakan ratusan bahkan hampir ribuan nyawa manusia.

                                                https://youtu.be/-fFYSRWrN7w

Jagat raya dibuatnya panik, dan ketakutan. Manusia banyak yang menjadi paranoid seakan-akan kalau keluar rumah akan kena korona. Demikian pula denganku yang mau tidak mau terpengaruh pemberitaan yang aku tonton, dan aku baca. Hingga saat mau buka pintu masjid pun, aku membukanya dengan siku, jika pakai telapak tangan dan aku lupa mengusap wajahku dengannya, bisa jadi telapak tanganku yang penyentuh pegangan pintu itu kemudian menebarkan korona tersebut melalui mata, hidung, atau mulutku, demikian keyakinanku waktu itu.


Dari berita di media Televisi dan media sosial lainnya, jelas sekali pesannya bahwa kita jangan sampai mengucek wajah dengan tangan setelah tangan tersebut menyentuh benda apasaja, kawatir benda tersebut bekas disentuh orang yang terpapar korona, dan bila kita menyentuhnya maka kita akan ketularan virus korona juga. Sungguh benar benar membuat rasa takut luar biasa berita korona saat itu, dan kuat tertanam keyakinan di masyarakat bahwa cara untuk mencegah korona tidak masuk ke tubuh  yaitu dengan selalu memakai masker dimanapun kita berada. 

Dengan adanya kebijakan pemerintah yang membuat Satgas Covid 19 secara nasional, dan dilanjutkan di tiap Propinsi, dan Kabupaten /Kota, maka semua berita lokal dan Nasional bahkan internasional semuanya dipenuhi berita korona mulai dari angka terpapar, yang dapat disembuhkan dan yang wafat  akibat korona. Rasa takut yang berawal  korona di Wuhan China pada akhir 2019 dan meledak Maret 2020,  kini membuat dunia terguncang, Sekolahan pun menjadi mencekam.


 TOBE CONTINUE....


 B. BAGAIMANA KITA MENGAJAR MURID ?, Kita di Sekolah dan Murid di Rumah ?


Guncangan berita kematian akibat terpapar virus korona menjadikan manusia sealam raya dicekam ketakutan luar biasa, kalau mau jujur jamaah sholat subuh di Masjid Muhajirin Pancasila Komplek Depag tempat aku tinggal pun, jamaahnya tinggal tersisa beberapa orang saja. Alasan mereka karena ada himbauan/larangan untuk tidak sholat berjamaah di masjid, dan supaya sholatnya di rumah saja.

Kadang ada perasaan ingin mengatakan dalam forum pengajian warga yang biasa kami lakukan tiap malam Jumat, bahwa kita semua jamaah sholat subuh yang masih tersisa, apabila ada salah satu dari jamaah subuh meninggal, meskipun gejalanya seperti gejala sakit korona, maka jangan dipublish dan tetaplah dilakukan pemulasaraan janazah seperti biasa, toh dari berbagai sumber yang kompeten di bidang pervirusan, menyatakan bahwa bila virus yang bersarang dalam tubuh seseorang, dan orang yang dihinggapinya telah mati, maka virus itu ikut mati dan tidak akan menyebar. Ini salah satu video tersebut di Mata Najwa :

                    https://youtu.be/bJZYzCHXDFw

Ambulan atau mobil jenazah dengan suara  mengumnya yang khas bergema setiap hari, baik pagi, siang maupun malam. Berseliweran di jalan raya dan perumahan warga, disusul dengan pengumuman dari pengeras suara masjid atau mushalla yang diawali dengan kata “Inna lillahi wa inna ilahi roojiuun” diulang 2 kali biasanya, lalu ditambahkan dengan informasi lanjutan : telah berpulang ke rahmatullah bapak …. bin … dan seterusnya. 

Hiruk pikuk suara tersebut makin membuat orang tua murid panik dan ketakutan bila anaknya tetap masuk sekolah tatap muka lalu kena korona. Atas masukan dari berbagai pihak dan aturan pemerintah yang mengatur bahwa semua sekolah pembelajarannya harus tatap maya atau daring, maka Sekolahku pun memutuskan merubah pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran tatap maya atau daring.

Aku  dan semua Guru di SD Islam Al Azhar menjadi galau dan bertanya kepada pimpinan waktu itu Pak H. Sudibyo, M.Pd :  “Bagimana kita dapat mengajar dari Sekolah sedangkan anaknya ada di rumah atau di kamarnya masing-masing?”.

Alhamdulillah di Sekolahku ada 2 guru yang hobinya ngoprek IT Pak Anwar dan Pak Jupri. Mereka berdua mengusulkan agar kita menggunakan zoom meeting saja. Apaan tuh Zoom meeting , pikirku karena aku termasuk guru yang belum sadar IT, masih gaptek dan kudet.

Adalah Pak Cherul Anwar dan Pak Jupri dua orang guru melek IT yang waktu itu menggulirkan ide supaya kita mendownload aplikasi Zoom Meeting saja di laptop atau Hp masing masing. Meskipun masih menggunakan Zoom gratis,  alhmdulillah akhirnya Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ di sekolahku dapat berjalan baik.


https://drive.google.com/file/d/1Cx9Qoak-3K8j9Gye6b4qoA7AmcEFwyJJ/view?usp=sharing

Catatan  atau kekurangannya adalah bahwa tiap 40 menit zoom akan terputus dan guru bisa klik start kembali,  murid pun akan msuk kembali hingga pembelajaran selesai. Inilah zoom gratis yang sangat bermanfaat untuk menanggulangi kebingungan kami para guru, yang bertanya tanya : “Bagaimana kami mengajar murid di tengah pandemi korona?”. Jawabannya : gunakan aplikasi zoom dan sejenisnya, dan setelah dicoba alhamdulillah berjalan baik. 

11 komentar:

  1. Keren Pak. Mengalir. Siap menunggu kelanjutannya 👍

    BalasHapus
  2. makasih bu Dwi, semangat terus. bikin buku bersama saja dahulu sebelum buko solo

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Lho judul tentang G. Form ..bisa berlanjut ceritanyakan....di tunggu pak 💪

    BalasHapus
  5. Jadi teringat lagi awal corona mulai dariBogor ya klo ga salah, iyah bulan maret dan sayapun dg anak2 masih study tour waktu itu, agak sedih nih 😢

    Bagus ceritanya, saya tunggu kelanjutannya pa 🙏🤩

    BalasHapus
  6. Kereeenn Pak, Mantaaabbb 🤩👍🏻

    Ceritanya sangat menarik,
    Aplg ada nama2 dl cerita spt Cindy, Falisha, Bagas dan Barra 🥰
    Jd penasaran dengan kelanjutannya 😍
    Ditunggu yaa Pak 😊

    Sehat dan sukses slalu 🙏🏻

    BalasHapus
  7. Wah .....pak Dail produktif....ceritanya bikn kepo ..terus menulis..dan lihatlah apa yang akan terjadi....👍😀

    BalasHapus
  8. terima kasih sudah mampir dan komentar. barokallah

    BalasHapus

DI STASIUN PONDOK CHINA JODOHKU BERSATU

Popular posts